Empat Tahap Kunci Perkembangan dan Kerusuhan
Analisis Perkembangan dan Kerusuhan Terbaru di Iran
Tahap Pertama (28 S/D 31 Desember 2025) Aksi Protes Sipil Awal
Tahap Kedua (1 S/D 7 Januari 2026) Eskalasi Aksi Non-Bersenjata namun Bersifat Kekerasan
Tahap Ketiga (08 S/D 10 Januari 2026)Eskalasi ke Terorisme Bersenjata dan Campur Tangan Asing
Tahap Keempat (Sejak 10 Januari 2026)Pemulihan Ketertiban Umum
Perkembangan terbaru di Iran dapat diklasifikasikan ke dalam empat tahap yang berbeda sebagai berikut:
Tahap Pertama (28 S/D 31 Desember 2025) Aksi Protes Sipil Awal
Perkembangan ini bermula dari aksi unjuk rasa yang bersifat damai, yang terutama dipicu oleh ketidakpuasan ekonomi di kalangan pelaku pasar dan kelompok profesi.
Respons Pemerintah:
Pemerintah secara langsung berinteraksi dengan perwakilan asosiasi profesi dan pelaku ekonomi guna menanggapi kekhawatiran mereka. Setelah dialog tersebut, sejumlah tuntutan ekonomi secara resmi dimasukkan ke dalam agenda kebijakan pemerintah.
Hasil:
Gelombang awal aksi unjuk rasa mereda dan digantikan oleh periode dialog serta perundingan yang terstruktur.
Tahap Kedua (1 S/D 7 Januari 2026)
Eskalasi Aksi Non-Bersenjata namun Bersifat Kekerasan
Dengan masuknya unsur-unsur baru, karakter aksi berubah dan memicu gangguan ketertiban umum secara luas serta perusakan properti, meskipun sebagian besar pelaku aksi masih tidak menggunakan senjata.
Respons Pemerintah:
Pasukan keamanan mempertahankan sikap menahan diri dengan tujuan yang dinyatakan untuk meredakan ketegangan dan mencegah eskalasi kekerasan lebih lanjut.
Evaluasi:
Meskipun situasi tetap berada dalam kendali operasional negara, periode ini mencerminkan peralihan yang signifikan dari protes damai menuju aksi konfrontatif dan destruktif.
Tahap Ketiga (08 S/D 10 Januari 2026)
Eskalasi ke Terorisme Bersenjata dan Campur Tangan Asing
Pada tahap ini, aksi-aksi protes secara brutal dibajak oleh unsur-unsur teroris bersenjata. Para pelaku, yang dilengkapi dengan senjata api, secara membabi buta menargetkan personel keamanan maupun warga sipil yang tidak bersalah tanpa diskriminasi.
Pengarahan dan Campur Tangan Asing
Bukti signifikan, termasuk hasil penyadapan komunikasi, mengonfirmasi bahwa operasi-operasi tersebut diarahkan dari luar negeri. Keterlibatan Amerika Serikat dan rezim Israel dalam memfasilitasi tindakan-tindakan ini bersifat terang-terangan dan telah diakui, antara lain melalui:
- Laporan media Israel mengenai keberadaan agen-agen Mossad yang fasih berbahasa Persia dan beroperasi di jalan-jalan Tehran.
- Pernyataan Mike Pompeo, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, dalam pidato publik Tahun Baru 2026, yang secara langsung menyapa “rakyat Iran di jalanan dan agen-agen Mossad di sisi mereka”, yang secara efektif mengonfirmasi dan mengakui bentuk kerja sama tersebut.
Bukti Dokumenter dari Investigasi Lapangan dan Pengakuan Teroris Penyelidikan, termasuk pengakuan dari teroris yang ditangkap, mengungkap adanya kampanye kekerasan yang sistematis, yang dirancang untuk memaksimalkan korban sipil, merusak infrastruktur publik, dan menebar ketakutan luas di tengah masyarakat. Temuan utama yang terdokumentasi meliputi:
· Kekerasan atas Perintah Asing:
Komunikasi yang disadap menunjukkan bahwa para teroris menerima instruksi eksplisit dari penghubung asing, termasuk perintah untuk menembaki kerumunan secara acak dan menargetkan warga sipil—termasuk perempuan dan anak-anak—jika tidak memungkinkan menyerang aparat keamanan, semata-mata untuk meningkatkan jumlah korban.
· Penargetan Layanan Darurat:
Ambulans dan kendaraan pemadam kebakaran diserang secara sistematis. Dalam kurun waktu tiga hari, 180 ambulans dan 53 mobil pemadam kebakaran mengalami kerusakan atau hancur, yang secara serius menghambat respons darurat.
· Kebrutalan Ekstrem:
Teroris menggunakan kejahatan bergaya ISIS, termasuk pemenggalan kepala personel keamanan dan pembakaran korban, sebagai alat untuk menciptakan ketakutan massal.
· Pembakaran dan Sabotase Terkoordinasi:
Kampanye pembakaran berskala nasional menargetkan infrastruktur vital sipil, pemerintahan, dan keagamaan, termasuk:
- Lebih dari 53
- 26 bank dan 25 masjid hanya di ibu
- Kantor pos utama di sebuah kota (Eslamabad-e Gharb).
- Sekitar 200 toko dan rumah pribadi di sejumlah
· Kekerasan Berbayar:
Catatan keuangan yang terverifikasi menunjukkan adanya pembayaran untuk tindakan kekerasan tertentu, seperti serangan terhadap kantor polisi dan pembakaran kendaraan milik pemerintah.
· Pengadaan dan Distribusi Senjata:
Pasukan keamanan menyita lebih dari 1.300 pucuk senjata dari kelompok teroris. Bukti video yang terdokumentasi menunjukkan distribusi senjata secara terorganisasi kepada individu-individu tertentu.
· Pembunuhan Sengaja terhadap Korban Luka:
Dalam satu insiden yang sangat mencolok, 11 orang korban luka yang sedang dievakuasi ke rumah sakit dieksekusi dengan tembakan dari jarak dekat. Tujuan utama dari tindakan-tindakan ini adalah memicu intervensi militer asing. Eskalasi ini sejalan dengan pernyataan terbuka Presiden Amerika Serikat yang mengaitkan kemungkinan intervensi militer dengan meningkatnya jumlah korban. Sasaran jelas para teroris adalah memperbesar angka kematian guna menciptakan dalih bagi agresi militer baru terhadap Iran.
· Respons Pemerintah:
Republik Islam Iran memandang kampanye terorisme ini sebagai kelanjutan langsung dari “perang dua belas hari”, yaitu agresi militer bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Juni 2025. Iran menyatakan bahwa semua pihak yang merancang, mengarahkan, dan melaksanakan serangan terhadap warga sipil tak bersalah ini akan dimintai pertanggungjawaban penuh. Republik Islam Iran berkomitmen untuk menempuh keadilan melalui seluruh jalur hukum yang tersedia, baik di tingkat nasional maupun di pengadilan internasional, guna memastikan bahwa para pelaku serta para pendukung asing mereka dimintai pertanggungjawaban.
Tahap Keempat (Sejak 10 Januari 2026) Pemulihan Ketertiban Umum
Dengan dipulihkannya operasi keamanan pemerintah, kampanye kekerasan bersenjata berskala luas berhasil dikendalikan secara efektif. Tahap ini ditandai oleh
intervensi tegas aparat keamanan yang mengakibatkan penangkapan sejumlah besar unsur teroris bersenjata yang terlibat dalam kekerasan sebelumnya.
Sentimen Publik dan Persepsi terhadap Peristiwa
Data jajak pendapat nasional menunjukkan adanya tuntutan publik yang jelas terhadap stabilitas:
- Lebih dari 80 persen masyarakat menyatakan keinginan mereka untuk mengakhiri kerusuhan dan menuntut pertanggungjawaban para perusuh serta pelanggar hukum.
- Terkait akar krisis, opini publik secara tegas menunjuk faktor eksternal sebagai penyebab Hanya sekitar 30 persen yang mengaitkan peristiwa ini terutama dengan masalah ekonomi domestik, sementara lebih dari 70 persen menilai provokasi asing sebagai faktor penentu.
- Pada 12 Januari, aksi unjuk rasa nasional digelar di seluruh negeri, di mana warga secara terbuka mengecam kerusuhan kekerasan dan tindakan Perkiraan awal menunjukkan bahwa sekitar 3 juta orang hanya di Tehran turut serta dalam aksi tersebut, yang mencerminkan komitmen luas masyarakat terhadap perdamaian dan stabilitas.
- Sebagai respons terhadap korban akibat aksi teroris, Pemerintah Republik Islam Iran menetapkan tiga hari berkabung nasional untuk mengenang warga sipil tak bersalah, petugas kepolisian, dan personel keamanan yang gugur.
Dukungan Asing yang Berkelanjutan terhadap Upaya Destabilisasi
Meskipun kekerasan di lapangan telah dihentikan, dukungan eksternal terhadap upaya destabilisasi masih terus berlanjut. Sebagai contoh, laporan menunjukkan bahwa lembaga anti-Iran “Foundation for Defense of Democracies (FDD)” telah menyerahkan sebuah strategi multi-dimensi kepada Pemerintah Amerika Serikat guna mempertahankan tekanan terhadap Iran.